MAKASSAR, terassulsel.com – Dunia industri modern bergerak sangat cepat, dipicu oleh pesatnya penetrasi teknologi dan otomatisasi bisnis. Menjawab tantangan tersebut, institusi pendidikan tinggi dituntut untuk terus adaptif agar materi pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan lapangan kerja. Menyadari krusialnya hal ini, Universitas Teknologi Akba Makassar (UNITAMA) merespons aktif melalui pembaruan panduan akademiknya.
Melalui Progam Studi Bisnis Digital, UNITAMA secara resmi menggelar Lokakarya Penyusunan dan Pengembangan Kurikulum untuk Tahun Akademik 2026/2027 pada Rabu (16/9/2026). Agenda strategis yang dibuka langsung oleh Rektor UNITAMA, Dr. Asnimar, S.Kom., M.Kom., ini melibatkan jajaran pimpinan kampus, dosen, alumni, hingga perwakilan mahasiswa aktif.
Kegiatan ini dirancang bukan sekadar rutinitas formalitas tahunan, melainkan menjadi wadah diskusi terbuka untuk membedah arah pendidikan bisnis digital ke depan. Kampus berupaya menjembatani jurang (gap) antara teori akademis di ruang kelas dengan dinamika nyata di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Guna mendapatkan formulasi kurikulum yang komprehensif, UNITAMA menghadirkan empat pakar lintas sektor sebagai narasumber utama. Kolaborasi ini sengaja dibentuk untuk menggabungkan perspektif regulasi pendidikan, keahlian teknis, standar asosiasi, serta tren pasar kerja nyata.
Narasumber pertama, Prof. Dr. Ir. Andani, M.T., IPU., ASEAN.Eng., selaku Guru Besar Universitas Hasanuddin sekaligus Asesor BAN-PT, memberikan bobot penekanan pada aspek standar penjaminan mutu nasional. Sementara itu, pandangan dari kacamata vokasi dan teknologi disampaikan oleh Dr. Ir. Abdul Muis Mappalotteng, S.Pd., M.Pd., M.T., IPM, Ketua Jurusan Teknik Informatika dan Komputer FT Universitas Negeri Makassar.
Dari sisi pemetaan kompetensi profesi, Syamsu Alam, S.Si., M.Si., selaku Ketua Wilayah 8 & 9 sekaligus Pengurus Nasional APBISDI (Asosiasi Profesi dan Pendidikan Bisnis Digital Indonesia) periode 2026–2029, memaparkan pentingnya kurikulum yang lincah (agile). Menurutnya, materi perkuliahan harus mampu mengantisipasi pergeseran tren teknologi agar mahasiswa memiliki keunggulan kompetitif setelah lulus.
Lengkapi perspektif terapan, hadir pula Ahmad Fadli Taufik, praktisi leadership dan marketing sekaligus CEO Tapada Indonesia. Ia menyoroti keterampilan lunak (soft skills), kepemimpinan, dan mentalitas kewirausahaan yang wajib dimiliki calon lulusan agar mampu bersaing di ekosistem bisnis digital yang ketat.

Sesi diskusi berlangsung interaktif di bawah panduan Ketua Program Studi Bisnis Digital UNITAMA, Dr. Mashud, S.Kom., S.E., M.Ak. Para peserta, mulai dari alumni hingga mahasiswa, memanfaatkan momen ini untuk memberikan umpan balik langsung terkait pengalaman belajar serta kebutuhan riil yang mereka hadapi saat terjun di lapangan.
Seluruh masukan, data, dan usulan kritis yang terkumpul selama dialog akan dijadikan bahan evaluasi utama dalam menyempurnakan dokumen Kurikulum Prodi Bisnis Digital UNITAMA TA 2026/2027. Penyusunan berbasis kolaborasi multi-pihak ini diharapkan melahirkan struktur mata kuliah yang solutif dan berbobot.
Melalui langkah proaktif ini, UNITAMA menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar meluluskan sarjana, melainkan mencetak SDM berkualitas yang siap pakai, inovatif, dan mampu beradaptasi cepat dengan lanskap bisnis masa depan.





