Terassulsel.com, Makassar – Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat dukungan terhadap mobilitas internasional sivitas akademika dengan meluncurkan Campus Immigration Point (CIP). Layanan ini menghadirkan akses pelayanan keimigrasian lebih dekat bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga mitra internasional Unhas.

CIP Unhas diresmikan langsung oleh Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M.Sc. Peluncuran turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi dan Kealumnian Prof Ir Suharman Hamzah, ST, MEng, Ph.D., Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Sulawesi Selatan Friece Sumolang, S.H., M.H., Konsul Jenderal Australia di Makassar Sarah Storey, serta Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Makassar Abdi Widodo Subagio, S.Si.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Sulawesi Selatan Friece Sumolang mengatakan CIP dirancang untuk memberikan manfaat seluas-luasnya, baik bagi sivitas akademika Unhas maupun masyarakat umum.

“Untuk sementara masih dalam tahap uji coba. Namun, ke depan tentu kita tidak berhenti di sini. Kami akan terus memperluas layanan hingga dapat diakses seluruh masyarakat tanpa terkecuali,” ujar Friece.

Dengan adanya CIP, masyarakat yang membutuhkan layanan paspor tidak perlu langsung mendatangi kantor imigrasi sejak tahap awal. Pendaftaran dapat dilakukan melalui aplikasi M-Paspor, kemudian proses layanan dilakukan melalui CIP Unhas.

Untuk sementara, CIP Unhas membuka layanan setiap Selasa dan Kamis dengan kuota 25 pemohon per hari untuk layanan paspor. Sementara layanan bagi warga negara asing tidak dibatasi. Ke depan, layanan tersebut ditargetkan dapat berkembang dan dibuka setiap hari.

Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa menyambut kehadiran CIP sebagai bagian dari penguatan posisi Unhas sebagai World Class University, sekaligus perguruan tinggi yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Menurutnya, layanan tersebut juga menjadi simbol kepercayaan pemerintah kepada Unhas sebagai mitra strategis dalam mendukung mobilitas internasional.

“Kami berharap peran in dapat menjadi contoh, khususnya bagi perguruan tinggi di Indonesia Timur. Bagi Unhas sendiri, fasilitas sangat penting, mengingat semakin meningkatnya mobilitas sivitas akademika ke berbagai negara,” kata Prof. JJ.

Setiap tahun, ratusan mahasiswa dan dosen Unhas melakukan aktivitas ke luar negeri. Sebaliknya, ratusan dosen, peneliti, dan mahasiswa asing juga datang dan menjadi bagian dari Unhas. Kehadiran CIP diharapkan semakin memudahkan layanan keimigrasian sekaligus memperkuat ekosistem internasionalisasi perguruan tinggi. (*/ac)

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *